PERSITA DAN PERSITARA MENCARI SOLUSI KRISIS
KARENA kondisi stadion yang dianggap tak layak, membuat Persita Tangerang dan Persitara Jakarta Utara harus bermain di luar kandang mereka sendiri. Kedua tim ini sekarang berupaya mencari solusi agar keuangan mereka tidak membengkak.
Dalam dua laga awal Indonesia Super League (ISL) 2008, Persita bermain di dua tempat. Laga pertama dia Stadion Si jalak Harupat, sedangkan laga kedua di Stadion Siliwangi, Bandung.
Hal yang sama juga dialami Persitara. Dua laga awal ISL terpaksa mereka mainkan di Stadion Si Jalak Harupat. Tak heran, kondisi tersebut membuat anggaran kedua tim membengkak.
“Sudah jelas sekali budget kami membengkak,” kata Andi Mulyadi, Manajer Persita, Kamis (24/7).
Andi menjelaskan akibat tidak bisa bermain di kandang sendiri, Pendekar Cisadane terpaksa melakukan beberapa perubahan budget. Mereka juga melakukan berbagai upaya untuk memecahkan masalah tersebut.
“Kami sedang berupaya mencari sponsor-sponsor. Hasilnya belum bisa diketahui karena masih dalam taraf penjajakan,” papar Andi.
Hal senada juga diungkapkan oleh Hari Ruswanto, Manajer Persitara. Dua partai awal yang dijalani Laskar Si Pitung benar-benar sangat mempengaruhi kondisi finansial mereka. Kerugian hingga ratusan juta rupiah pun terpaksa harus mereka tanggung.
Hari sendiri menuturkan pihaknya sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya. Tapi dengan kondisi dimana timnya bermain nomaden, sulit untuk mencari sponsor tetap.
“Kami sekarang sedang mengharapkan BLI (Badan Liga Indonesia) untuk memperbolehkan kami menggunakan Stadion Lebak Bulus,” ujar Hari.